Menu

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

0 Comment

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘dokter adalah lulusan pendidikan kedokteran yang memiliki keahlian dalam hal penyakit dan pengobatannya.’1 Menurut saya, dokter adalah sebuah profesi yang mulia. Dokter senantiasa mengorbankan waktu, pikiran, dan raga demi orang-orang yang membutuhkannya. Dokter adalah profesi yang sangat menguras tenaga, bagaimana tidak, dokter bisa bekerja hingga lebih dari 50 jam tiap minggunya. Bukannya membesar-besarkan, tapi menurut saya dokter adalah seorang pahlawan. Dia telah mengenyam pendidikan begitu lama untuk menolong orang yang membutuhkan, mengobati orang yang sakit. Profesi menjadi seorang dokter membutuhkan tanggung jawab dan fokus yang tinggi. Dokter adalah tentang kemanusiaan, mereka melihat seseorang pada keadaan terbaik dan terburuknya.
Menjadi seorang dokter adalah sebuah pilihan yang berdampak besar bagi diri sendiri dan lingkungan. Dokter adalah pekerjaan dengan resiko yang tinggi. Menurut saya untuk menjadi seorang dokter diperlukan niat yang baik. Baik dalam artian tidak semata-mata hanya mencari uang, karena apabila hanya uang yang dicari, ada segudang pekerjaan yang lebih mudah ditempuh dan dapat menghasilkan uang lebih. Banyak yang bercita-cita menjadi dokter karena mereka terpanggil jiwanya untuk menyelamatkan orang lain. Mereka tergerak untuk memberi harapan hidup kepada orang lain yang sekarat. Mereka ingin melihat senyuman lega dari keluarga orang yang ditolongnya. Kadang-kadang memang sesimpel itu. Ini adalah profesi bagi orang yang memiliki empati tinggi dan eka terhadap lingkungan. Dokter adalah profesi bagi mereka yang siap menghadapi berbagai macam cobaan mulai dari kehidupan kuliah hingga menjadi dokter itu sendiri. Tiap hari adalah suatu pengalaman yang berbeda bagi seorang dokter. Sehingga apabila seseorang mengeluh betapa sulitnya menjadi dokter, harus diingat kembali—mengapa mengambil jalan menjadi dokter? Apakah yang diperjuangkan?
Ada beberapa kategori menjadi seorang dokter yang baik. Seorang dokter seharusnya dapat menghormati orang baik yang sakit maupun tidak. Dokter harus mendukup pasien kapanpun dibutuhkan. Dokter selayaknya mempromosikan kesehatan serta mengobati penyakit. Dokter memiliki kewajiban untuk tetap mengikuti informasi dan belajar sepanjang masa tentang kesehatan. Dokter dituntut untuk dapat sopan, terlebih kepada pasien, dan dapat menjadi pendengar yang baik. Dokter harus dapat memberikan saran yang tidak bias dan menilai tiap situasi dengan hati-hati dan bijaksana. Dokter juga harus bisa bekerja sama dalam sebuah tim kesehatan, karena dokter tidak dapat bekerja seorang diri. 2
“Kewenangan dokter diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2052/MENKES/PER/X/2011 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. Pada pasal ke-20, dokter yang telah mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) memiliki wewenang untuk membuka praktik kedokteran. Dokter dapat mewawancarai pasien, memeriksa fisik dan mental pasien, menentukan pemeriksaan penunjang, dan melakukan diagnosis. Dokter juga dapat menentukan pengobatan pasien, melakukan tindakan kedokteran, menulis resep obat, menerbitkan surat dokter, menyimpan dan memberikan obat sesuai dengan standar yang berlaku, serta meracik dan menyerahkan obat kepada pasien apabila dokter yang bersangkutan praktik di daerah yang tidak memiliki apotik.” 3
Para dokter di Indonesia seharusnya dapat menjadi panutan bagi masyarakat di sekitarnya karena merupakan suatu profesi yang luhur. Oleh karena itu untuk menjamin kesungguhan para dokter, Ikatan Dokter Indonesia membakukan nilai-nilai tanggung jawab profesional profesi kedokteran dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) yang membahas tentang kewajiban-kewajiban seorang dokter dalam pasal-pasal.4
“Kewajiban umum seorang dokter yang pertama adalah tiap dokter wajib menjunjung tinggi, menghayati, dan mengamalkan sumpah dokter. Kedua, seorang dokter dituntut untuk selalu profesional dan independen, dan dan perilaku tersebut harus selalu dipertahankan. Ketiga, dalam melakukan pekerjaannya, dokter tidak boleh terpengaruh suatu hal yang dapat mengancam kemandirian profesinya. Keempat, seorang dokter wajib menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri. Kelima, tiap perkataan dan perlakuan dokter yang dapat melemahkan kondisi fisik ataupun psikis harus melalui persetujuan pasien/keluarganya dan hanya akan diberikan semata-mata demi kepentingan dan kebaikan pasien tersebut. Keenam, setiap dokter harus sangat berhati-hati dalam memberi pengumuman tentang tiap penemuan baru tentang cara pengobatan yang belum teruji keabsahannya dan tentang hal yang bisa membuat keresahan di masyarakat. Ketujuh, seorang dokter diwajibkan hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah teruji kebenarannya. Kedelapan, seorang dokter haruslah bisa memberikan tindakan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral dengan penuh disertai rasa kasih sayang dan hormat atas jiwa dan kehidupan manusia. Kesembilan, dokter wajib bersikap jujur dalam beruhubungan dengan pasien dan sejawatnya dan saling mengingatkan pada rekan sejawat. Kesepuluh, dokter harus memiliki rasa hormat terhadap hak pasien, teman sejawatnya, dan tenaga kesehatan lain, dan menjaga kepercayaan terhadap pasien. Kesebelas, setiap dokter wajib mengingat kewajiban dirinya melindungi makhluk hidup insani. Keduabelas, dokter harus memperhatikan tiap-tiap aspek pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif) baik secara fisik maupun psiko-sosial-kultural pasiennya dan senantiasa berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat. Ketigabelas, dokter wajib saling menghormati antara pejabat lintas sektoral di bidang sektoral, bidang lainnya, dan masyarakat.”4
“Menurut KODEKI, dokter juga memiliki kewajiban terhadap pasien. Pertama, dokter harus dapat bersikap tulus dan mengerahkan seluruh keilmuan dan kemampuannya untuk kepentingan pasien, dan apabila ia tidak mampu memenuhi pengobatan/pemeriksaan maka ia wajib merujuk pasien tersebut kepada dokter lain yang mampu. Kedua, tiap dokter wajib memberi pasien kesempatan supaya dapat berinteraksi terhadap keluarga, beribadat, dan menyelesaikan masalah pribadinya. Ketiga, tiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu tentang seorang pasien. Keempat, tiap dokter wajib memberikan pertolongan darurat sebagai wujud tugas perikemanusiaan.”4
“Kewajiban seorang dokter terhadap teman sejawat adalah supaya dokter memperlakukan teman sejawatnya seperti ia ingin diperlakukan dan seorang dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawatnya kecuali karena diminta atau persetujuan atau dengan prosedur yang etis. Kewajiban seorang dokter terhadap dirinya sendiri meliputi bahwa tiap dokter harus bisa memelihara dan menjaga kesehatannya supaya dapat bekerja dengan baik dan selalu dalam kondisi prima, dan tiap dokter senantiasa mengikuti update dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.” 4
Pendidikan kedokteran di Indonesia dibagi menjadi 2 tahapan. Pertama, untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran dapat ditempuh dengan studi 7-8 semester yang berbobot 144 SKS. Yang kedua adalah untuk memperoleh gelar dokter (dr.) ditempuh dalam waktu 4 semester setelah lulus dokter muda/koas dengan bobot 40 satuan kredit semester. Di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia contohnya menerapkan kurikulum yang strategi pembelajarannya berpusat kepada mahasiswa (sudent centered), berbasis masalah (problem based), terintegrasi horisontal dan terintegrasi vertikal (integrated), berbasis komunitas (community based), memungkinkan paparan kepada setting klinik dari awal (early clinical exposure), memberikan piliah kepada mahasiswa untuk mengambil bidang ilmu elektif, dan pelaksaaan yang sistematis. 5
Dokter lulusan FKUI diharapkan dapat memiliki berbagai kompetensi. Kompetensi utama diantaranya adalah dapat berkomunikasi secara efektif, dapat mengelola masalah kesehatan, profesionalitas yang luhur, dapat mengolah informasi, mawas diri, berlandaskan ilmiah ilmu kedokteran, dan memiliki keterampilan klinis. Kompetensi pendukung yang diharapkan adalah dapat melakukan riset, dapat memiliki skill pengelolaan kegawat-daruratan kedokteran dan kesehatan, dan dapat memanajemen pelayanan kesehatan. Kompetensi lainnya yang diharapkan adalah dokter senantiasa bijaksana, berpengetahuan, berani, berperikemanusiaan, adil, memiliki kendali diri, transenden, dan memiliki keterampilan belajar secara mandiri.5
Program pendidikan kedokteran di Indonesia diatur oleh Konsul Kedokteran Indonesia (KKI). Model kurikulum dengan basis kompetansi yang memiliki integrasi horizontal dan vertikal, orientasi ke masalah individu, masyarakat, dan keluarga pada konteks pelayanan kesehatan primer. Kelompok ilmu kedokteran adalah ilmu Biomedik, ilmu Humaniora, ilmu Kedokteran Klinik, dan ilmu Kesehatan Masyarakat/Kedokteran Pencegahan/Kedokteran Komunitas. Intehrasi horizontal maksudnya integrasi kelompok ilmu dari satu tahap pendidikan kedokteran. Integrasi vertikal maksudnya integrasi kelompok ilmu dari tahap akademik dan profesi. Masing-masing harus meliputi 50% dari kurikulum. 6
Orientasi isi kurikulum sesuai yang dijelaskan di atas dan memperhatikan prinsip metode ilmiah dan prinsip kurikulum spiral serta mengacu pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Cabang dari ilmu Biomedik adalah Anatomi, Histologi, Biologi Sel dan Molekuler, Biokimia, Mikrobiologi, Fisiologi, Parasitologi, Patologi Klinik, Patologi Anatomi, dan Farmakologi. Cabang dari ilmu Humaniora Kedokteran adalah ilmu pendidikan kedokteran, perilaku kesehatan, antropologi kedokteran, sosiologi kedokteran, agama, bahasa, bioetika dan hukum kesehatan, serta Pancasila dan Kewarganegaraan. Cabang dari ilmu Kedokteran Klinik adalah ilmu penyakit dalam, ilmu beah, ilmu kesehatan anak, ilmu kebidanan, ilmu penyakit syaraf, ilmu kesehatan jiwa, ilmu kesehatan kulit dan kelamin, ilmu kesehatan mata, ilmu gizi klinik, radiologi, ilmu THT, ilmu rehabilitasi medik, ilmu anestesi, ilmu kedokteran forensik dan medikolegal. Cabang ilmu kesehatan masyarakat/kedokteran komunitas/kedokteran pencegahan melipti biostatistik, epidemiologi, ilmu kedokteran keluarga, ilmu kependudukan, ilmu kesehatan lingkungan, ilmu kedokteran kerja, ilmu manajemen dan kebijakan kesehatan, ilmu sosial dan perilaku kesehatan, serta gizi masyarakat. 6
Setelah mahasiswa selesai menempuh pendidikan dokter pada jenjang S1, dia dapat melanjutkan untuk ke S2 ataupun spesialis. Program spesialis adalah untuk dokter yang ingin memiliki spesialisasi bidang kedokteran tertentu. Untuk dapat menjalani program profesi spesialis, seseorang harus sudah menyelesaikan program sarjana dan koasnya. Ada berbagai macam program pendidikan dokter spesialis di Indonesia dan lama pendidikannya rata-rata selama 8 semester. Beberapa contoh program spesialis diantaranya adalah spesialis anak dengan masa studi 8 semester (bergelar Sp.A), spesialis bedah saraf dengan masa studi selama 11 semester (bergelar Sp.BS), spesialis mata dengan masa studi 7 semester(bergelar Sp.M), spesialis bedah orthopaedi dan traumatologi dengan masa studi selama 9 semester (bergelar Sp.OT), spesialis parasitologi klinik dengan masa studi 9 semester (bergelar Sp.ParK), spesialis penyakit dalam dengan masa studi 9 semester (bergelar Sp.PD), spesialis radiologi dengan masa studi 7 semester (bergelar Sp.Rad), spesialis gizi klinik dengan masa studi 6 semester (bergelar Sp.GK), spesialis farmakologi klinik dengan masa studi 6 semester (bergelar Sp.FK), spesialis kedokteran forensik dan medikolegal dengan masa studi 6 semester (bergelar Sp.F), spesialis anestesiologi dan terapi intensif dengan masa studi 8 semester (bergelar Sp.An), spesialis ilmu bedah dengan masa studi selama 10 semester (bergelar Sp.B), spesialis obstetri dan ginekologi dengan masa studi 9 semester (bergelar Sp.OG), spesialis neurologi dengan masa studi 8 semester (bergelar Sp.S), spesialis ilmu kesehatan jiwa dengan masa studi 8 semester (bergelar Sp.KJ), spesialis ilmu kesehatan kulit dan kelamin dengan masa studi 7 semester (bergelar Sp.KK), dan program spesialis lainnya.5

x

Hi!
I'm Amelia

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out
x

Hi!
I'm Annette!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out